Selasa, 27 Januari 2009

Film Laskar Pelangi yang sukses besar dengan jumlah penonton mencapai 3,9 juta membuat buku-buku tetralogi Laskar Pelangi semakin laris manis. Sempat terkena gosip beberapa waktu yang lalu tidak menyurutkan film tersebut dan bahkan Andrea Hirata penuh percaya diri meluncurkan novel terakhirnya pada tetralogi Laskar Pelangi yaitu Maryamah Karpov tanggal 28 November kemarin.

Meskipun tidak mengikuti launchingnya di MP Bookpoint Cipete bersama teman-teman lainnya, saya masih beruntung bisa melihat talkshow Andrea Hirata pagi harinya di TV One. Tidak banyak yang diceritakan Andrea Hirata mengenai novel ini karena mungkin waktu yang terbatas yaitu 30 menit dikurangi iklan dan juga untuk semakin menambah penasaran pecinta novelnya.

Rasa penasaran ini memang cukup menghantui sehingga ketika siang hari sedang berangkat ke lapangan, saya menyempatkan dulu mampir ke Toko Trimedia Bookstore di Mal Ambasador. Dengan harap-harap cemas semoga bukunya belum kehabisan, saya pun dengan cepat-cepat menuju ke toko itu. Baru masuk ke pintu toko, saya sudah disambut dengan puluhan, mungkin ratusan Novel Maryamah Karpov yang tertata rapi di rak depan, sangat mencolok. Di belakang novel Maryamah Karpov, terjajar juga buku tetralogi sebelumnya seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor.

Isi novel yang dijanjikan mengaduk-aduk perasaan dengan tawa dan tangis ini seperitnya akan menjadi best seller sampai beberapa bulan ke depan. Apalagi marketing gimmick dari penerbit bekerjasama dengan toko buku terbilang cukup bagus. Penjual buku bajakan yang beredar di pinggir jalan, jembatan ataupun Senen juga akan menikmati berkahnya.

Sampai postingan ini saya tulis, saya sama sekali belum membaca karena masih dikalahkan dengan beberapa kesibukan apalagi beberapa buku-buku saya yang sudah terbeli juga belum selesai membanya. Mungkin weekend ini, saya akan menyempatkan untuk membaca novel Maryamah karpov yang menurut Andrea Hirata adalah “Literary Non Fiction”, novel non fiksi yang dipenuhi unsur karya sastra. Novel seperti ini menurut Andrea Hirata masih jarang di Indonesia, padahal di luar katanya sudah banyak.

Berikut ini cuplikasi sinopsis dari isi novel Maryamah Karpov yang ada di sampul belakang buku :

Keberanian dan keteguhan hati telah membawa Ikal pada banyak tempat dan peristiwa. Sudut-sudut dunia telah dia kunjungi demi menentukan A Ling. Apa pun Ikal lakukan demi perempuan itu. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali? Novel ini menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam cerita sebelumnya. Tetap dengan sihir-sihir kata-katanya, Anda akan dibawa Andrea pada kisah-kisah yang menakjubkan sekaligus mengharukan.

Seperti halnya buku lainnya, informasi yang tertulis di bagian belakang sampul pada novel ini juga cukup meyakinkan dan mengundang minat untuk segera membacanya. Semoga yang dijanjikan itu benar. Apalagi Andrea Hirata dengan sedikit lebay juga mengatakan bahwa buku ini luar biasa, sarat motivasi dan edukasi. Semangat menulisnya seperti ketika di Laskar Pelangi tumbuh lagi di Maryamah Karpov, sehingga buku ini juga cukup tebal, 504 halaman. Tapi buku ini cukup tipis dibandingkan dengan apa yang pernah dikatakan Andrea ketika Talk Show di pameran buku di Jakarta beberapa bulan lalu yaitu 700an halaman. Ya mungkin Andrea terlalu sibuk sehingga kuatnya hanya 500 halaman :D. Bagaimanapun, tebal tipisnya suatu buku juga tidak penting, yang penting adalah bagaimana buku tersebut mampu memberi manfaat yang besaar dan menginspirasi pembaca untuk melakukan suatu hal yang lebih baik. Saya bahkan sampai saat ini juga masih belum satupun menghasilkan karya berbentuk buku.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat kepada Andrea Hirata atas terbitnya novel terbaru Maryamah Karpov ini. Semoga menjadi best seller, tidak lupa diri meskipun telah menjadi selebritis :D. Semoga Maryamah Karpov ini bisa menginspirasi banyak orang. Dan semakin banyak lagi penulis-penulis di Indonesia yang bisa memberi manfaat besar bagi bangsa dengan tulisan yang berkualitas.


sumber : www.mrbambang.web.id

Perempuan Lebih Keras Kepala dari Lelaki

Rabu, 23 Januari, 2008 oleh Merry Magdalena

Selama ini para pria dikenal dengan reputasinya sebagai pihak yang keras kepala di antara kedua jenis kelamin yang ada. Padahal perempuan ternyata lebiih “keras kepala” lagi. Mengapa? Sebab sesungguhnya memiliki tengkorak kepala lebih tebal. Kalau yang ini memang sungguhan, bukan sekedar identik. Studi yang dilakukan oleh Jesse Ruan dari Ford Motor Company dan koleganya dari Tianjin University of Science and Technology, China ini memang membuktikan bahwa tulang tengkorak kepala perempuan lebih tebal dari lelaki.

Ruan menguji tengkorak kepala 3000 pasien di Tianjin Fourth Central Hospital melalui pemindaian citra dan ditemukan bahwa ada perbedaan menarik antara lelaki dan perempuan. Hasil studi ini memiliki imbas pada riset lanjutan serta desain alat pelindung kepala.

Pelindung

Rata-rata keteballan tulang tengkorak lelaki adalah 0,25 inchi atau 6,5 milimeter. Sedangkan perempuan 0,28 inchi atau 7,1 milimeter. Perempuan memiliki tengkorak kepala lebih kecil daripada lelaki, dari depan hingga belakang hanya sepanjang 171 milimeter dengan lebar 140 milimeter. Sedangkan lelaki mencapai panjang 176 milimeter dan lebar 145 milimeter.

“Ketebalan tengkorak antar gender berbeda, itu sudah terbukti dengan studi kami,” jelas Ruan. “Langkah selanjutnya adalah mengetahui apakah perbedaan ini memiliki pengaruh pada respon antar keduanya.”

Selain itu studi tersebut jika bisa dijadikan acuan dalam merancang alat pelindung kepala seperti helm dan sejenisnya. Untuk mendesain alat ini, bentuk kepala juga harus diperhitungkan dan membuthkan studi baru. Hasil riset ini dipublikasikan secara detail di International Journal of Vehicle Safety.

Hmm, apakah tulang tengkorak yang lebih tebal pada perempuan bisa diartikan mereka lebih keras kepala? Itu butuh stuli lanjutan lagi.

Diterjemahkan secara bebas dari www.livescience.com


sumber : netsains.com

Perempuan Berkalung Sorban, Bertutur Pengorbanan Perempuan

Kamis, 15 Januari 2009 - 12:01 wib

Film ini berseting tahun 1980-an di mana budaya patriarki masih mencengkeram di tengah pesantren salafiah (tradisional) di Jawa Timur, saat itu.

Perempuan Berkalung Sorban diangkat dari Novel karya Abidah Al Khalieqy, film ini menuturkan perjuangan seorang muslimah Annisa (Revalina S Temat), anak seorang kyai kondang, Kyai Hanan (Joshua Pandelaky), yang mempunyai pondok pesantren Salafiah putri Al-Huda.

Annisa ingin menyejajarkan diri dengan laki-laki. Salah satu poinnya adalah keinginannya untuk bisa mengendarai kuda seperti yang dilakukan kedua orang kakak laki-lakinya. Juga keinginannya kuliah di Yogya dibandingkan harus mondok di pesantren. Namun ajaran pesantren yang kolot masih diterapkan oleh Kyai Hanan yang selalu mengecam putrinya jika berbuat seperti apa yang dilakukan kaum Adam.

Annisa tidak seperti perempuan kebanyakan yang selalu menjalani aturan-aturan sistem patriarki. Annisa adalah muslimah yang menentang segala bentuk aturan yang mengekang.

Khudori (Oka Antara), paman dari pihak Ibu, satu-satunya orang yang memahami dan selalu menemani Anissa. Menghiburnya sekaligus menyajikan 'dunia' yang lain bagi Anissa.

Diam-diam Anissa menaruh hati kepada Khudori. Tapi cinta itu tidak terbalas karena Khudori menyadari dirinya masih ada hubungan dekat dengan keluarga Kyai Hanan, sekalipun bukan sedarah. Hal itu membuat Khudori selalu mencoba membunuh cintanya. Sampai akhirnya Khudori melanjutkan sekolah ke Kairo.

Annisa yang punya pegangan kuat terhadap prinsip harus luluh terhadap permintaan ayahnya yang menginginkannya menikah dengan seorang pemuda bernama Samsudin (Reza Rahadian) seorang anak dari Kyai kondang yang mempunyai pesantren besar, karena Kyai Hanan punya maksud ingin memperbesar pesantren salafiah puteri Al-Huda miliknya.

Bukan untung yang didapat oleh Annisa, malah hidupnya bak di neraka setelah menikahi Samsudin. Samsudin walau dibesarkan di lingkungan pesantren, didikan pesantren tidak membuat moril pemuda ini menjadi Islami. Tafsir yang keblinger dari sudut pandangny, bahwa laki-laki punya kehendak yang harus dituruti oleh kaum hawa.

Dasar inilah yang membuat Samsudin kalap. Selalu memperlakukan Annisa dengan semena-mena termasuk untuk urusan seks. Jika Annisa tidak memenuhi permintaannya, Samsudin kerap melakukan pemaksaan dengan jalan kekerasan.

Tak hanya kekerasan fisik yang dialami Annisa. Kekerasan secara psikis pun dialami. Di suatu hari, tiba-tiba Annisa didatangi seorang perempuan bernama Kalsum (Francine Roosenda) yang sedang hamil tua. Dia mencari Samsudin untuk meminta tanggung jawab terhadap anak yang sedang dikandungnya.

Lagi-lagi Annisa harus bisa menjalani rumah tangganya dengan Samsudin bersama istri muda. Sebab, keluarga masing-masing berpegang pada pada sejarah Nabi Muhammad SAW, laki-laki bisa memiliki istri lebih dari satu.

Merasa cukup penderitaan yang dialami Annisa, dan tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya kecuali satu, Khudori. Diam-diam Annisa menemui Khudori di sebuah tempat tersembunyi dan berkeluh kesah apa yang telah dilakukan Samsudin. Merasa putus asa, Annisa ingin cerai dari Samsudin dan meminta Khudori menikahinya.

Rupanya Samsudin mencium pertemuan rahasia istrinya dengan Khudori. Khudori pun menjadi bulan-bulanan dan dituduh telah berzina dengan Annisa. Hukuman rajam pun menantinya.

Film hasil besutan sutradara yang sukses dengan Ayat-ayat Cinta, Hanung Bramantyo, ini sangat menarik untuk ditonton. Walaupun masih ada saja kekurangan, pesan yang ingin disampaikan cukup baik dengan angle detail dan setting di Yogyakarta.

Hanung mengungkapkan, film ini cukup sensitif karena membawa nilai agama. Hanung berpesan, saat menonton film jangan memperdebatkan wacana Islam dengan Islam. Ini cerita masalah kemanusiaan di mana perempuan selalu dinomorduakan.

Walau wacana-wacana perdebatan soal agama sudah biasa di Indonesia, tetap saja ada pihak atau kelompok yang mempermasalahkan film ini. Apakah Hanung siap? "Ya, saya siap jika film ini mengundang kontroversi," tegasnya.

Anda bisa menyaksikan film ini di bioskop mulai 15 Januari 2009.

Pemain:
Revalina S. Temat
Joshua Pandelaky
Widyawati
Oka Antara
Reza Rahadian
Ida Leman
Francine Roosenda

Sutradara :
Hanung Bramantyo

Penulis :
Hanung Bramantyo
Ginatri S. Noor. (ang)

sumber : celebrity.okezone.com